Tampilkan postingan dengan label Other Business Related. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Other Business Related. Tampilkan semua postingan

Sebuah Pemikiran Mengenai Teknik Pengambilan Keputusan

Posted by apapunditulis on Senin, 01 Maret 2010 , under |



sebuah pemikiran mengenai pengambilan keputusan....


Setiap pemimpin pasti menyadari bahwa keputusan-keputusan yang dibuat memiliki resiko. Ada banyak sekali teknik pengambilan keputusan yang telah dijadikan pedoman bagi organisasi maupun individu yang berbeda. Teknik menebak, mengundi dan tafsir mimpi mungkin merupakan teknik pengambilan keputusan yang tertua yang sampai saat ini masih dipergunakan oleh manusia. Di dunia bisnis, ada beberapa teknik pengambilan keputusan yang dipelajari, misalnya teknik Go or No Go, Best Alternative to a Negoatiated Agreement, Mind Map, Six Hat, dan sebagainya. Tiap teknik dipergunakan tergantung pada individu yang menggunakan, tingkat kompleksitas, urgensi dan kepentingan permasalahannya.

Tapi biar tidak terlalu jauh melangkah ke berbagai teknik pengambilan keputusan, mari kita telaah terlebih dahulu unsur dari sebuah keputusan secara sederhana, yaitu:
1. Pemicu/Penyebab
2. Kendala
3. Harapan/Ekspektasi
4. Pengolahan Informasi
5. Pengambilan Keputusan

Jadi dapat disimpulkan bahwa keputusan diambil itu disebabkan oleh pemicu, kendala, dan harapan untuk memperoleh hasil tertentu. Ketiga faktor tersebut merupakan data utama untuk diolah sebagai informasi untuk pengambilan keputusan.



Pemicu
Pemicu dari sebuah keputusan itu bisa rasional dan tidak rasional, tergantung dari sudut pandang pengambil keputusan. Contoh pemicu irrasional adalah: feeling, mimpi, kekhawatiran, ketakutan, pengalaman pahit, dan sebagainya. Sedangkan pemicu rasional contohnya adalah: progress proyek, deadline, posisi market share, dan sebagainya. Dalam pengambilan keputusan, sebaiknya kedua faktor ini tetap diperhatikan dan diikutsertakan sebagai data yang perlu diproses lebih lanjut. Banyak kasus yang memperlihatkan pengusaha muda sukses tidak berdasarkan pemicu rasional seperti keberadaan modal, besarnya pasar dan sebagainya tetapi ia mengandalkan feeling atau keyakinan untuk sukses saja sebagai pemicu untuk mengambil keputusan sebagai pengusaha dan memang berhasil.
Bila dilihat dari sudut pandang bisnis, pemicu ini bisa dibagi menjadi dua, yaitu:
  1. Stratejik, seperti visi dan misi,
  2. Operasional, seperti absensi, jam kerja.
Kendala
Setiap keputusan selalu memiliki kendala. Kendala ini merupakan peraturan, undang-undang, norma, SOP (standard operating procedure) serta kebijakan-kebijakan lainnya yang harus diperhatikan dalam membuat sebuah keputusan. Tidak memperhatikan kendala dalam mengambil keputusan dapat menyebabkan orang masuk penjara dengan alasan korupsi, karena pengambil keputusan tidak memperhatikan adanya aturan-aturan lain yang melarang ia untuk mengambil keputusan dengan cara yang dilarang dalam undang-undang. Contoh lain kendala ini adalah keinginan untuk menikah memiliki kendala harus dana yang besar untuk acara adat, kendalanya adalah aturan peradatan yang mengikat, sehingga keputusan menikah tidak dapat dilaksanakan dengan proses instant. Contoh kendala-kendala ini adalah: job description, otoritas atau kewenangan, undang-undang, norma, kebiasaan, adat istiadat, karakter (peragu, pemberani, dsb), area penjualan, dan sebagainya.
  
Harapan
Harapan dalam hal ini ialah sesuatu yang diharapkan terjadi atau diperoleh setelah keputusan diambil. Misalnya keputusan untuk memukuli, atau melapor ke hansip, melapor ke polisi ketika seorang pencuri tertangkap basah. Hasil yang diharapkan adalah agar pencuri tersebut menjadi jera dan tidak mencuri lagi. Bisa juga keputusan untuk belajar keras merupakan buah dari harapan.

Pengolahan Informasi
Pengolahan informasi untuk pengambilan keputusan merupakan teknik pengambilan pemicu, kendala dan kemungkinan hasil (harapan) yang sebanyak-banyaknya sebelum mengambil keputusan. Teknik pengolahan informasi ini lebih mudah untuk dipelajari. Contoh teknik pengambilan informasi ini adalah diskusi, mindmap, six hat, survey, riset, dan sebagainya. Dalam pengolahan informasi, kemungkinan terjadi bias sangat mungkin terjadi. Bias ini umumnya disebabkan oleh keterbatasan waktu, keterbatasan responden, keterbatasan kontributor, keterbatasan interpretasi, keterbatasan pengalaman, dan sebagainya. Metoda-metoda teknik pengambilan keputusan pada umumnya membahas pada teknik pengolahan informasi ini, terutama pada hal pengambilan ketiga faktor pemicu, kendala dan harapan.

Pengambilan Keputusan
Keputusan merupakan reaksi terhadap sebuah pengolahan informasi pemicu dan kendala yang ada untuk memperoleh hasil yang diharapkan. Dilihat dari pemicunya, maka Pengambilan Keputusan ini dapat dibagi dua menjadi Pengambilan Keputusan Strategis dan Pengambilan Keputusan Operasional. Pengambilan keputusan strategis terkait dengan visi, misi, impian, target bisnis, dan sebagainya. Sedangkan pengambilan keputusan operasional terkait dengan kegiatan operasional seperti yang tertuang dalam SOP (standard operating procedure).

Kesimpulan
Secara sederhana, berbagai teknik pengambilan keputusan yang ada saat ini, baik yang rasional maupun irrasional tergantung pada keempat faktor pendukung dalam pengambilan keputusan, yaitu Pemicu, Kendala, Harapan, dan Pengolahan Informasi. Dengan memperhatikan keempat faktor tersebut, maka keputusan dapat diambil dengan lebih rasional dan memiliki alasan yang lebih baik.

Dari keempat faktor tersebut, ada dua hal yang dapat terutama dapat meningkatkan banyak atau sedikitnya keputusan yang diambil. Kedua faktor tersebut ialah Pemicu dan Kendala. Dengan mereduksi pemicu serta meningkatkan kendala maka jumlahnya keputusan yang harus diambil akan lebih sedikit atau lebih sempit. Contohnya adalah merekrut Hansip di lingkungan RT, dan membuat aturan kerja serta prosedur kerja Hansip dapat membuat Hansip lebih mudah melakukan pekerjaannya. Sehingga ia tidak menjadi bingung apakah pencuri yang tertangkap harus dipukuli atau harus digadang keliling kampong, atau harus dilaporkan ke polisi. Dalam dunia bisnis, teknik ini diimplementasikan dalam bentuk security, secretary, customer service, dan SOP (standard operating procedure) untuk mereduksi jumlah keputusan strategis terkait dengan keluhan pelanggan. Dengan mengatur kedua faktor tersebut, maka dapat dilakukan outsourcing pegawai yang terkait dengan keluhan pelanggan, karena keputusan strategis dapat direduksi.

Dalam dunia nyata, seringkali keputusan diambil secara cepat dan merupakan gerak refleks saja. Seperti keputusan untuk makan siang, kalau harus menggunakan berbagai teknik pengambilan keputusan maka hasilnya adalah semakin lapar bukan? Keputusan untuk berekreasi, keputusan untuk bermain, keputusan untuk tidur, keputusan untuk beristirahat, dan berbagai keputusan-keputusan lainnya.

Pemberlakuan C-AFTA 2010

Posted by apapunditulis on Rabu, 06 Januari 2010 , under |



Awal tahun 2010 dimulai dengan pemberlakuan ASEAN-China Free Trade Agreement, yang memberlakukan sekitar 90% harga komoditi dari China ke Negara-negara ASEAN dan sebaliknya turun dari sekitar 12% hingga ke 0.6%. Hal ini merupakan pangkasan dari biaya pajak. Dari jumlah populasi yang terkena imbas, ini merupakan perjanjian kerjasama perdagangan yang terbesar di dunia. Dari volumenya merupakan yang ke-tiga terbesar di dunia. Potensi market yang besar ini dipastikan akan meningkatkan kekompetitifan negara-negara yang terlibat.

Selamat bersaing bangsa Indonesia!

One Sigma

Posted by apapunditulis on Kamis, 06 November 2008 , under |





Sejenak terpikir mengenai target dari menjalankan bisnis. Ujung-ujungnya sih duit, yang sering dilembutkan dalam istilah profitable atau cost effectiveness. Key Performance Indicator (KPI) pada level management mungkin semuanya menggunakan target Sales. Berapa jumlah uang yang bisa dia capai dalam waktu yang telah ditetapkan, misalnya target revenue / sales dalam 1 tahun adalah 10 Milyar, itu adalah KPI si manager, atau manajemen kontrak si manager tersebut.

Kondisinya, perusahaan pun bisa panik. Seorang CEO yang punya KPI ketat mungkin akan memaksa Marketing Manager-nya untuk mencapai target Sales tinggi dan Cost of Good Solds (COGS) yang seminimum mungkin. Dan membuat KPI manager berdasarkan Sales (uang). Seringkali anggapan KPI berdasarkan uang adalah cara yang paling fair, karena terukur. Tapi bagaimana dengan hasil produksi? kacau balau? atau berapa yang berhasil dari sekian banyak usaha? seringkali ini jadi diabaikan, akhirnya kerja serabutan yang penting dapet target uang.

Ketika terlibat dalam pembuatan proposal di kantor, terlintas pikiran berapa kemungkinan menang dari proposal ini? Bisa nggak aku pake metoda Six Sigma untuk melakukan improvement? “pasti bisa!” pikirku. Six Sigma adalah sebuah cara dalam Manajemen Operasi untuk meningkatkan keberhasilan produksi. Dari produksi 1 juta, cacat produk tidak boleh melebihi 3,4 buah. Ini diterapkan di Motorola, GE, Toyota, dan perusahaan-perusahaan besar lainnya. Aku berpikir, tidak mungkin proposal bisa mencapai keberhasilan seperti itu, tapi setidaknya mencapai 67% keberhasilan, atau One Sigma bisa dijadikan target keberhasilan proses.

Kemudian aku mencatat jumlah proposal yang telah dibuat perusahaan tahun ini, dan membandingkannya dengan tingkat keberhasilan. Aku tercengang, karena keberhasilan proposal menjadi proyek hanya 9%. Jauh dari One Sigma. Kemudian, yang menjadi pertanyaan, kenapa selama ini manajemen hanya memikirkan hasil akhir (Sales), tidak pada prosesnya??? Seandainya proses ini ditingkatkan maka nilai Sales (hasil akhir) pun akan menaik. Inilah lika-liku bisnis, kadang2 kita hanya fokus pada uang, sehingga KPI pun berdasarkan uang saja, tidak perduli prosesnya, akhirnya, COGS atau biaya terbuang untuk mencapai Sales tersebut menjadi tinggi. COGS tersebut meliputi biaya pembuatan proposal, reproduksi proposal, pengiriman, dsb. Ujung-ujungnya Sales didapat tinggi, tetapi pengeluaran juga tinggi.

Mencermati kondisi yang ada, perusahaan memiliki Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000. Tapi sistem tersebut tidak memberikan improvement apa-apa. Itu hanyalah sebuah sistem dokumentasi semua proses bisnis yang dilakukan. Sistem ini bisa dipergunakan sebagai track record. Tapi kalau tidak ada target improvement, maka sistem ISO tersebut tidaklah bermanfaat. So, rasanya penerapan Internal Quality Control and Improvement mesti ditingkatkan pada target yang lebih realistis.

That’s just my thought.. kalo aku jadi CEO ntar mesti ngerti proses bisnis dan juga target bisnis. Setidaknya, aku dapetin sesuatu dari kuliah Operation Management :) last question, how to compile KPI based on Operation and Sales.. that's a real life..


“bangkit dan bangkit lagi setelah jatuh dan tidak mudah jatuh lagi kemudian berlari lebih kencang”

Bossy

Posted by apapunditulis on Senin, 03 November 2008 , under |




Bossy itu menurut aku adalah memerintah orang lain dengan perasaan lebih hebat dari orang yang disuruhnya. Selain itu, ada unsur lain yang menurut aku ada dalam bossy, yaitu dia sendiri tidak tahu bagaimana melakukannya, pokoknya yang dia ingin hasil akhir. Mungkin sadar ga sadar kita sering berperilaku bossy; memerintah orang lain tapi kita tidak mau bagaimana dia melakukan itu.


Bila ditinjau dari perspektif ke-Indonesiaan aku yang kental (bangga jadi warga negara Indonesia!!) he.he.. perilaku bossy ini sudah jadi bagian dari kehidupan penduduk Indonesia secara umum.. siapa yang posisinya menentukan posisi orang lain dapat semena-mena memerintah orang lain.. sebenarnya, ini ga hanya di Indonesia, tetapi hampir di seluruh Negara-negara Asia, atau aku menyimpulkannya sebagai budaya Timur. Mungkin ini muncul dari kebiasaan untuk menghormati orang yang lebih tua, lebih makmur, lebih berkuasa, dan lebih-lebih yang lainnya sehingga orang yang merasa dirinya lebih juga merasa dirinya harus dihormati dan dipatuhi.

Jadi inget Ospek tahun 99-2000, aku sebagai mahasiswa baru (dipanggil kunyuk) dicekokin dan disuruh menghafal dan meneriakkan kata-kata ini, setiap ditanyakan “Who is the leader?” aku mesti jawab “The leader is the one who knows the ways, shows the way and goes the way!”. Dulu sih mungkin cuma teriak-teriak aja daripada digampar oleh senior dan swasta, yang bisa bikin kunang-kunang muncul di siang hari atau pandangan abu-abu padahal ga mendung. Sejak bergabung dalam organisasi, aku baru mengerti prinsip itu. Seorang pemimpin adalah seseorang yang harus mengerti permasalahan, memberikan jalan keluar dan ikut bersama-sama untuk memecahkan masalah.

Daniel Goleman, seorang pengarang buku Leadership yang sangat terkenal, melakukan riset mengenai kepemimpinan, dan hal tertinggi yang dapat memotivasi bawahan adalah pemimpin yang bersama-sama dengan bawahannya menyelesaikan permasalahan (oleh Goleman diistilahkan dengan Authoritative Leadership, dengan ciri khas : “come with me..!”). . Paradigma lama mengenai pemimpin harus dilayani kini mulai bergeser dengan pemikiran bahwa pemimpin adalah seseorang yang harus melayani.

Fiuwh.. yuk kerja lagi.. memenuhi keinginan bos-bos yang kadang-kadang tidak tahu apa yang kita pengen dari mereka.. yang kalo menurut grup band Slank:

HEY BUNG!

Hey bung yang di atas sana coba turun ke jalan
Lihat2 situasi apa yang terjadi
Hey bung yang dibalik meja coba turun ke jalan
Tunjukkan rasa perhatian
Hey bung didalam gedung megah coba turun ke jalan
Liat2 kondisi bair pasti
Hey bung yang berkuasa coba turun ke jalan
Berikan rasa kelembutan

Jangan tunggu kami turun di jalanan
Jangan sampai kami yang tunjukkan rasa … rasa

Yo, kita tunjukkan kualitas kepemimpinan kita dengan ikut simpati terhadap pekerjaan orang yang secara struktural berada di bawah kita.. kita mesti tahu, mesti bisa tunjukkin jalan, dan ikut bersama-sama dengan mereka dalam menyelesaikan masalah. That’s a real leader!! bukan bossy asal perintah aja.. ga mau tau pokonya jadi..! fiuwh.. gawe lagi yok.. walaupun bos emang bossy he.he.he.. ga mungkin minta dia berubah, nanti aja kalo posisinya udah diganti ama gw deh.. gw mesti jadi pemimpin yang lebih baik :)


"leadership is communication,communication and communication!"

Karbon Kredit - Credit Carbon

Posted by apapunditulis on Jumat, 24 Oktober 2008 , under |



Sedikit berbagi ilmu, mudah-mudahan bisa berguna..

Barusan, temen gw kasihtau ada pengumuman tender di PLN mengenai pembelian karbon kredit melalui skema CDM.. terus gw bingung, lha kita kan perusahaan konsultan engineering di bidang lingkungan ga ikut dalam beli-belian seperti kontraktor.. tapi agak penasaran dengan pengumuman konsultannya, saya berpikir kayaknya dimaksud adalah pembuatan mekanisme pengurangan emisi gas buang dari batubara yang dipake oleh PLN untuk PLTU-PLTU nya..

Cari-cari di internet, ternyata yang dimaksud dengan karbon kredit itu kurang lebih seperti ini (pake ilustrasi biar lebih enak jelasinnya..):
PLN sekarang ini menggunakan batubara untuk menghasilkan listrik. Batubara tersebut jelas menghasilkan emisi karbon yang tinggi. Dengan melakukan konversi energi dari batubara ke tenaga-tenaga lain (gas, energi matahari, tenaga air, tenaga angin, dsb) berarti PLN melakukan pengurangan emisi karbon, katakanlah menjadi minus 2 dari ambang batas. Pengurangan emisi karbon tersebut kemudian diberitahukan kepada pemerintah Indonesia, untuk kemudian diteruskan ke PBB. Dari PBB diberikan ke negara-negara maju yang industri-nya mengeluarkan karbon melebihi ambang batas, katakanlah lebih 2 dari ambang batas. Industri tersebut dapat membeli minus 2 dari PLN agar kelebihan ambang batasnya menjadi 0. Angka 2 itulah yang dimaksud karbon kredit, jadi PLN punya karbon kredit sejumlah 2. Nilai 2 tersebut dikonversikan menjadi nilai uang, atau pemasukan bagi PLN.

Nah, hubungannya dengan perusahaan aku apa? Perusahaan aku adalah konsultan yang core business-nya di bidang lingkungan, jadi dapat melakukan pembuatan skema energi alternatif, perhitungan selisih emisi sesudah konversi penggunaan batu bara tersebut, pengajuan ke KLH dan PBB, hingga PLN dapat memperoleh uang dari negara-negara maju (yang ikut dalam protokol Kyoto).

Sekian dulu.. lain kali aku bagi2 mengenai kuliah2 aku, dan pekerjaan2 aku yang mungkin bermanfaat bagi awam..

referensi : Clean Development Mechanism, Kyoto Protocol, Carbon Credit